HIGHLIGHTS

Vacation in the Grandma’s House

Abstract

The study will interrogate and reconfigure the project of disclosing the heritage of ethnomusicologist Jaap Kunst. Jaap Kunst recorded a lot of Indonesian music while living in Indonesia from 1919-1934. The recording is used as teaching material and the development of ethnomusicology concepts as knowledge.

Now, after nearly 100 years, the Musicology Department of University van Amsterdam is initiating the opening of the Jaap Kunst legacy that has not yet been published. Because this heritage is related to Indonesia’s cultural history and memory, University van Amsterdam collaborates with academics from Indonesia and trying to find support from the Indonesian Government.

This article will reveal the dynamic relationship between Jaap Kunst legacies as a historical artifact and a site of forgetting, remembering, and history-making. How were the memory and identity stored in the Jaap Kunst materials reinterpreted in the postcolonial era? How is ethnomusicology addressing this matter related to shaping the colonial knowledge into the various subject positions?

I assumed that tracking down Kunst’s legacy was like taking a vacation at grandma’s house, bringing back all the memories but not necessarily related to the present.

Keywords: Jaap Kunst, legacy, ethnomusicology, colonial, post-colonial

Eksposisi

Membaca kembali perjalanan Jaap Kunst, seorang pegawai colonial yang pernah menjabat sebagai musikolog Dutch East-Indie yang merekam musik-musik di Nusantara sangat mengagumkan. Bagaimana tidak, warisan yang ditinggalkan sangat banyak dan beragam, tak hanya persoalan kuantitas material tetapi jika dibayangkan lima belas tahun tinggal di Hindia-Belanda dengan teknologi yang masih terbatas rekaman atas perjalanan dan penelitian lapangan masih dapat dibuka kembali arsipnya. Meskipun dengan perkembangan wacana kritis, selalu muncul beragam tanya dalam persoalan arsip colonial. Bagaimana arsip ini akan dibuka? Untuk siapa?  Bagaimana relasi antara arsip, pengetahuan dan kuasa colonial?

Sekitar 100 tahun lalu Jaap Kunst memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang ahli hukum di sebuah bank di Belanda. Jaap Kunst mencoba peruntungan baru sebagai musisi dengan melakukan perjalanan bersama kedua rekannya ke Hindia Belanda atau kini disebut Indonesia. Pentas dari panggung ke panggung sebanyak 95 konser dalam delapan bulan di beberapa club di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan menjadi kesibukan baru yang pada akhirnya mengubah kehidupan Jaap Kunst. Ketika berada di Yogyakarta, Jaap Kunst untuk pertama kalinya melihat pertunjukan gamelan di Pura Pakualaman, dan dia sangat terpesona akan harmonisasi suara gamelan(van Zanten, 1996). Menurutnya, suara tersebut sangat indah dan memiliki kerumitan tersendiri. Atas ketertarikannya, Jaap Kunst mulai merekam pertunjukan-pertunjukan gamelan dengan teknologi perekaman yang sedang menjadi trend masa itu. Wax cylinder sebuah temuan luar biasa dari Thomas Alfa Edison di akhir tahun 1908 (Pelikan, 2013)menjadi satu-satunya cara untuk merekam dan mengabadikan suara gamelan meski hanya berdurasi 2-4 menit. Jaap Kunst melihat dan mendengar gamelan memiliki bentuk dan struktur musik yang berbeda dari musik yang dia kenal. Dengan pitch nada yang juga berbeda dari biola yang biasa dia mainkan.  Atas perbedaan dan keingintahuannya akan jenis musik yang baru dia ketahui dan dengar, rekaman dari wax cylinder tersebut dia kirim ke Hornbostel, seorang musikolog Jerman yang bekerja di Berlin Phonogram Archive, selain pada saat itu Berlin Phonogram Archive sudah memiliki teknologi untuk memindah suara dari wax cylinder ke plat yang lebih stabil. Melalui korespondensi, Jaap Kunst mulai aktif berdiskusi mengenai suara gamelan dengan Hornbostel. Meskipun bukan seorang musikolog, tetapi seorang ahli hukum Jaap Kunst tumbuh dalam lingkungan musik karena kedua orang tuanya berprofesi sebagai musisi. Tidak hanya kepada Hornbostel, Jaap Kunst juga intens berdiskusi dengan seorang seniman juga arsitek dari Yogyakarta yang bernama KRT Joyodipuro, bahkan Jaap Kunst sempat beberapa waktu tinggal di rumah KRT Joyodipuro untuk menikmati pertunjukan gamelan. Jaap Kunst juga kerap meminta pertunjukan khusus kepada KRT Joyodipuro dengan membayar sejumlah uang gulden. Selain KRT Joyodipuro, Jaap Kunst juga menjalin pertemanan musical dengan Mangkunegoro VII, jalinan kisah ini diketahui dari arsip korespondensi yang hingga kini masih tersimpan di perpustakaan University van Amsterdam (Barendregt & Bogaerts, 2014).

Ketertarikan Jaap Kunst akan gamelan, pada akhirnya membuat Jaap Kunst memilih untuk menetap di Hindia Belanda dan berpisah dari kedua rekannya. Jaap Kunst mulai banyak meluangkan waktu untuk mempelajari musik-musik yang ada di Nusantara dan tidak hanya gamelan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Kunst mencari pekerjaan baru. Di tahun 1920 Kunst diterima sebagai pegawai senior Departemen Sosial di Batavia dan kemudian pindah ke Bandung.  Sebagai pegawai, Jaap Kunst tidak lagi memiliki banyak waktu luang untuk melakukan penelitian lapangan, meski demikian dalam satu tahun dia mendapatkan libur selama 14 hari dan libur tersebut dia pergunakan untuk melakukan penelitian lapangan di Bali sembari berbulan madu. Selain itu, waktu sepulang kantor juga dipergunakan dengan baik untuk melakukan penelitian lapangan di sekitaran Jakarta dan Bandung. Jaap Kunst juga sangat aktif melakukan korespondensi dengan Hornbostel serta beberapa kawan musikalnya seperti Mangkunegoro VII dan KRT Joyodipuro. Jaap Kunst juga mempublikasikan hasil penelitannya, seperti De toon kunst van Bali (The Music of Bali, 1925) dan juga Hindoe-Javaansche muziekinstrumenten (Hindu Javanese musical instruments, 1927). Tulisan Jaap Kunst mendapat respon positif dari beberapa Lembaga di Eropa seperti Koninklijke Academie van Wetenshappen (Royal Academy of Sciences) juga the French Legion d Honneur.

Di tahun 1927 Jaap Kunst untuk pertama kalinya kembali ke Belanda dan banyak diundang untuk memberikan kuliah di Belanda dan sekitarnya, sehingga dapat berjumpa dengan guru jarak jauh, Hornbostel untuk pertama kali. Jaap Kunst kemudian mulai dikenal sebagai peneliti musik dan banyak mendapatkan grant dari Dutch East Indian Government, dan akhirnya pada tahun 1930 Jaap Kunst diangkat sebagai peneliti musik di Kementerian Pendidikan dan kembali ke Hindia Belanda. Dengan jabatan yang baru Jaap Kunst mulai melakukan banyak perjalanan untuk penelitian lapangan. Bersama istrinya Kathy van Wely, Jaap Kunst mendirikan Musikologi Arsip yang mengkoleksi foto, rekam suara, film bisu, juga instrument. Sayangnya di tahun 1932 pemerintah memotong anggaran sehingga jabatan sebagai peneliti musik dihapuskan. Dan Kunst beralih menjabat sebagai sekretaris dari direktur yang bertugas untuk mendatangi tempat-tempat terpencil di Hidia Belanda. Sebuah kondisi yang sulit diungkap dengan kata antara kehilangan profesi resmi sebagai peneliti musik, tetapi mendapat kesempatan mengunjungi wilayah-wilayah terpencil yang sangat langka.  Jaap Kunst mendatangi banyak pulau kecil di sekitar Sumatera, Sulawesi, Flores, Timor, Maluku, New Guinea. Dia menjumpai musik-musik yang sangat beragam dan selalu merekam. Kunst mendekati komunitas masyarakat untuk dapat merekam music dengan berbagai cara. Sebagai seorang colonial, Jaap Kunst memulai perkenalan dengan masyarakat yang dikunjunginya dengan memainkan biolanya, dan kemudian meminta masyarakat memainkan musiknya, metode ini dikenal sebagai metode Jaap Kunst. Untuk dapat merekam musik yang bukan merupakan hal mudah, alat rekam yang cukup besar merupakan barang baru dan menakutkan bagi masyarakat terpencil, sehingga untuk dapat merekam Jaap Kunst sering harus mengelurkan biaya dengan uang pribadi.

Di tahun 1934 Jaap Kunst kembali ke Belanda dan menerbitkan tulusan De Toonkunst van Java atau dikenal secara luas Music in Java. Di Belanda Jaap Kunst mulai memberikan kuliah mengenai musik mulai dari penelitian yang pernah dia lakukan di Terschelling Belanda hingga New Guinea. Di tahun 1936 Jaap Kunst dipilih sebagai curator di Departemen Antropologi of the former Colonial Institute in Amsterdam (Royal Tropical Institute). Dengan jabatan tersebut, Jaap Kunst mengorganisasi hasil perekaman yang berupa buku, foto, negatives, rekam suara, personal korespondensi, instrumen musik yang tidak hanya berasal dari Hindia Belanda tetapi lebih global dan membuka Musicological Archives yang selanjutnya menjadi Ethnomusicological Archives (van Zanten, 1993).

Dengan pengetahuannya sebagai peneliti musik di Hindia Belanda Jaap Kunst berafiliasi dengan University of Amsterdam di tahun 1942 yang berarti dia mengajar sebagai dosen tamu. Dia mengajar ‘comparative musicology’ setelah memberikan ceramah yang berjudul “De waardering de exoctiche muziek (The appreciation of exotic music)”, Jaap Kunst mulai memposisikan diri sebagai ilmuwan musik dan mulai berani melawan Eurocentrism yang laten. Perang dunia ke dua pecah bersama Jerman menduduki Belanda membuat Jaap Kunst memiliki waktu luang untuk bekerja dengan material dan catatan perjalanan selama di Hindia Belanda.  Hasil kerjanya yang berupa buku, artikel dan brosur mulai dikenal luas dan di tahun 1950 dia dipilih menjadi honorary president the International Folk Music Council and the Society for Ethnomusicology dan mendapatkan kesempatan studi banding ke Amerika di tahun tersebut.

Sepulang dari perjalanannya di Amerika, Jaap Kunst diangkat sebagai dosen di University van Amsterdam pada tahun 1953. Dengan pidato pertamanya yang berjudul Sociologische bindingen in de muziek (Sociological relationships in music), Jaap Kunst menjelaskan keterkaitan musik yang tidak dapat lepas dari konteks social yang luas dan tidak hanya membahas Indonesia, tetapi seluruh dunia. Antara 1940-1954 Jaap Kunst memiliki banyak asisten yang belajar di bawah pengawasannya, salah satunya Mantle Hood yang menulis tentang masalah Javanese Tonal System. Hood kemudian membawa apa yang dipelajari dari Jaap Kunst dalam hal tradisi keilmuan untuk diajarkan di UCLA di Amerika. Jaap Kunst tidak pernah kembali ke Indonesia sejak 1934, dan meninggal di tahun 1958 karena kanker tenggorokan dan menjadi anggota the Royal Dutch Academy of Sciences.

Apa yang diajarkan Jaap Kunst kepada murid-muridnya kini dikenal secara luas sebagai disiplin ilmu yang disebut etnomusikologi. Dan material yang dulu di koleksi berupa rekam suara, foto, film, dias, juga arsip korespondensi tersimpan di beberapa tempat, antara lain Bijzondere Collection UvA, Berlin Phonogram Archive, Museum Nasional Indonesia dalam kondisi yang tidak terorganisasi dengan baik, setelah kurang lebih berusia 100 tahun. Di tahun 2017 Department Musikologi UvA menginisiasi projek untuk membuka warisan Jaap Kunst dibawah Kurator Barbara Titus. Seorang musikolog yang mengajar di Universitas tersebut, selain pernah menghabiskan masa kecil tinggal di Indonesia.

Daftar Pustaka

Barendregt, B., & Bogaerts, E. (2014). 8. A Musical Friendship: The Correspondence between Mangkunegoro VII and the Ethnomusicologist Jaap Kunst, 1919 to 1940. In Recollecting Resonances. https://doi.org/10.1163/9789004258594_009

Becker, J., Kunst, J., & Heins, E. L. (1975). Music in Java; Its History, Its Theory and Its Technique. Ethnomusicology. https://doi.org/10.2307/850365

Burton, A. (2020). Empire in Question. In Empire in Question. https://doi.org/10.1515/9780822393566

H., F., & Kunst, J. (1956). Ethno-Musicology. Journal of the International Folk Music Council. https://doi.org/10.2307/834758

Hansen, R. (2014). Jordanna Bailkin. The Afterlife of Empire. The American Historical Review, 119(2). https://doi.org/10.1093/ahr/119.2.608

Herbst, E., & Herbst, E. (2019). Bali 1928 Music Recordings and 1930s Films. In The Oxford Handbook of Musical Repatriation. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780190659806.013.20

Lay, C. (2018). The Bandung Spirit: Nation State and Democracy. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities, 6(1). https://doi.org/10.14203/jissh.v6i1.55

Paradis, L. (2013). Bill Schwarz. Memories of Empire, Vol. 1: The White Man’s World. Oxford: Oxford University Press, 2011. Pp. 584. $65.00 (cloth). Journal of British Studies, 52(1). https://doi.org/10.1017/jbr.2012.54

Pelikan, M. P. (2013). Pelikan’s Antidisambiguation: The End of the Wax Cylinder as We Know It. Against the Grain, 25(4). https://doi.org/10.7771/2380-176x.6595

Post, J. C. (2017). Introduction: Redesigning and redefining ethnomusicology. In Ethnomusicology: A Contemporary Reader, Volume II. https://doi.org/10.4324/9781315439167

Rice, T. (2017). Ethnomusicology in Times of Trouble. In Modeling Ethnomusicology. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780190616885.003.0009

Rouget, G., & Kunst, J. (1960). Ethnomusicology, a Study of Its Nature, Its Problems, Methods and Representative Personalities to Which Is Added a Bibliography. Revue de Musicologie. https://doi.org/10.2307/927288

Stokes, M. (2011). Afterword: A worldly musicology? In The Cambridge History of World Music. https://doi.org/10.1017/CHO9781139029476.046

van Zanten, W. (1993). Jaap Kunst foundation. In Music and Letters (Vol. 74, Issue 4). https://doi.org/10.1093/ml/74.4.656-c

van Zanten, W. (1996). Jaap KUNST: Indonesian music and dance; traditional music and its interaction with the West. Amsterdam: Royal Tropical Institute/Tropenmuseum; University of Amsterdam/Ethnomusicology Center « Jaap Kunst », 1994. Cahiers d’ethnomusicologie. Anciennement Cahiers de Musiques Traditionnelles, 9.

Vacation in the Grandma’s House

Abstract The study will interrogate and reconfigure the project of disclosing the heritage of ethnomusicologist Jaap Kunst. Jaap Kunst recorded a lot of Indonesian music

Artikel 6

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum vitae quam diam. Quisque iaculis turpis eu ipsum consectetur pellentesque. Sed sollicitudin bibendum dui, ornare efficitur